BID Sawahlunto Unjuk Inovasi cara Praktis Mengolah Kemiri dan Islamic Songket

Meski waktu telah menunjukkan pukul sembilan, kabut pagi nampak masih menyelimuti nadi kehidupan pagi masyarakat Kota Sawahlunto. Meski dingin pagi masih terasa menusuk, puluhan delegasi desa semangat menghadiri Bursa Inovasi Desa yang diselenggarakan oleh Tim Inovasi Kota Sawahlunto.  Mereka Nampak kompak, karena sebagian mengenakan kemeja putih. Demikian pula panitianya, memakai seragam kaos berlogokan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi.

Bursa Inovasi Desa Sawahlunto Nampak marak. Di samping pilihan tempat yang tepat, alat peraga bertebaran di banyak sudut lokasi kegiatan, mulai dari banner ucapan selamat datang, sampai dengan banner menu inovasi desa. Pilihan tempat di Gedung Pusat Keudayaan Kota Sawahlunto,  memberi nilai tambah tersendiri pada makna BID. Karena mengingatkan setiap pengunjungnya pada kejayaan kolonialis mencengkeram dan mengeruk batubara dari perut bumi Sawahlunto ribuan tahun lalu.

BID diikuti oleh kurang lebih 250-an orang yang terdiri dari perwakilan desa (kepala desa, kaur, BPD dan tokoh masyarakat), Satker PMD Provinsi dan Kabupaten, juga perwakilan POLRES dan Kantor Kejaksaan. Berkesempatan membuka acara BID yaitu wakil walikota, H. Ismed SH. Dalam kata sdambutanya, Pemerintah Kota Sawahlunto menyambut baik kegiatan BID. Terlebih, Sawahlunto adalah penyelenggara pertama agenda BID di Sumatera Barat. Karena menjadi penyelenggara BID pertama, maka hasilnya harus bisa menjadi contoh bagi kabupaten di Sumatera Barat yang belum melaksanakan, imbuhnya.

Program Inovasi Desa menurutnya membawa nilai positif, karena akan membantu membranding keunggulan kompetitif daerah. BID adalah ajang untuk saling bersitaruhmi dan merajut kebersamaan serta kegotongroyongan, sehingga akan tercipta kebersamaan dalam bekerja membangun desa. Wakil Walikota juga mengajak seluruh elemen yang hadir di BID untuk bergotong royong, meminimalisasi sentiman dan ego sektoral. Kita jangan lagi saling lempar kalau desa itu adalah urusannya Satker PMD. Padahal nyatanya, semua satker memiliki program yang berkait dengan desa.

Usai pembukaan, panitia menayangkan beberapa film pendek karya TPID setempat. Tujuannya yaitu untuk menunjukan kepada peserta bahwa di Sawahlunto kaya dengan karya inovasi dan juga inovator desa. Di samping itu untuk memperkaya hasil capturing inovasi yang telah dibuat sebelumnya oleh Kemendesa sebagai bagian dari materi atau menu inovasi BID. Contoh inovasi desa dari Sawahlunto tersebut misalnya, cara cepat, praktis dan berkualitas mengupas dan mengolah kemiri dari Desa Taratak Bancah Kecamatan Silungkang dan Islamic Songket dari Desa Lunto Barat Kecamatan Lembah Segar. Innovator acara praktis memecah kemiri Drs. Jamidin mantan kepala Desa Taratak Banca. Jamidin juga berstatus sebagai koordinator bidang layanan TPID kecamatan. Tampil sebagai innovator Islamic Songket yaitu Yandre Hari Vella Siq. SThi (26), lulusan STAI PIQ Sumbar, tahun 2014.

Dalam penjelasan Jamilin diketahui ternyata produktivitas kemiri di Sawahlunto sangat berlimpah. Desa Taratak Banca adalah salah satu produsen kemiri terbesarnya. Sebenarnya, pasar mengakui, kalau Taratak Banca memiliki potensi besar sebagai penghasil kemiri, namun tidak semua produk olahan kemiri dari Taratak Banca diterima pasar dengan baik. Hal ini disebabkan tingginya produk kemiri yang pecah, sementara pasar lebih banyak meminta kemiri yang bulat. Berangkat dari permintaan pasar dan problem proses pengolahan kemiri yang kurang berkualitas inilah, kemudian mendorong Jamidin untuk menemukan cara pemecahanya.

Dalam penjelasanya di depan peserta BID, Jamidin menyampaikan proses pengolahan kemiri yang baik sehingga menghasilkan produk berkulaitas dan siap pasar yaitu dengan cara mendinginkan kemiri mentah. Akhirnya membeli freezer menjadi pilihannya. Meski harus merogoh saku agak dalam, nilai jual kemiri malah tinggi. Proses pengolahan kemiri yang sebelumnya dilakukan secara manual hanya menghasilkan 30 persen kemiri berkualitas dari setiap ukuran kapasitas produksi. Meski panen banyak, dengan perlakuan proses produksi yang sederhana tak menjanjikan peningkatan nilai tambah bagi pelaku usaha kemiri. Setelah ditemukan proses produksi yang baru ini, para pelaku usaha kemiri, dalam sekali produksi dapat menekan kerusakan produk di atas 80, bahkan 90 persen.

Brand line “Islamic songket” dapat dikategorikan baru bagi kalangan pengrajin kain songket di Sawahlunto, Padang dan sekitarnya. Secara umum para pengrajin hanya fokus memroduksi kain songket dengan motif-motif yang secara turun temurun diterima dari pada pendahulunya, seperti  pucuk rabueng (tunas bamboo), saik galamai (makanan khas Sumbar), dan kalua paku (pohon pakis). Bukan berarti meninggalkan motif lama, tapi mengembangkan mdeol lain sehingga memberikan nilai tambah baru bagi khasanah motif kain songket maupun nilai tambah pendapatan pengrajin, aku Yandre yang pada saat itu didaulat mempresentasikan inovasinya di bidang produk unggulan desa. Latar belakang sebagai mahasiswa tafsir hadits menghilhaminya untuk mengembangkan motif kaligrafi ke dalam produksi songket di Sawahlunto. Alhasil motifa baru temuannya ini menarik perhatian para peminat songket.[Bro]

1 thought on “BID Sawahlunto Unjuk Inovasi cara Praktis Mengolah Kemiri dan Islamic Songket

  1. Inovasi ini dapat membangkitkan semangat desa agar lebih kreatif dlm memanfaatkan dana desa sehingga kesejahteraan rakyat lebih meningkat, salam inovasi desa. Suwarno dari Gorontalo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *