DESA Dlingo, Bantul, Mengukir Prestasi Setelah “Mati Suri”

 

 

Di Desa Dlingo ini, perubahaan mendasar pasca pemberlakuan UU Desa, dan secara lebih khusus setelah suntikan Dana Desa, adalah bahwa kehadiran Dana Desa turut membentuk karakter desa. Pembangunan desa yang salah satunya di danai dengan DD telah mampu merubah pola pikir masyarakat. Masyarakat menjadi terlibat aktif dalam proses-proses pembangunan. Tingkat partisipasi ini  bahkan berbanding terbalik pada tahun-tahun sebelum diberlakukanya DD. Kehadiran negara dalam konteks ini benar-benar  menjadi sesuatu yang tidak utopis

 

Partisipasi

Awalnya, masyarakat Dlingo begitu acuh-tak acuh, bahkan apatis dengan pembangunan. Desa ini, sebelum pemberlakuan UU Desa dan adanya suntikan Dana Desa, seakan “mati suri”-meminjam istilah kepala desa, Bahrun. Kehadiran Dana desa  telah merubah cara pandang masyarakatnya bahwa mereka lah pelaku pembangunan sesungguhnya. Keterlibatan masyarakat dalam forum-forum perencanaan pembangunan meningkat drastis. Partisipasi berlangsung dalam arti yang sesungguhnya.  Musrengbangdes misalnya. Musrengbangdes  selalu dihadiri 110-120 perserta yang merupakan perwakilan dusun-dusun. Setiap dusun mengirimkan 10 utusan. Partisipasi perempuan pun mencapai 30 % dalam setiap musrengbangdes.

 

Sebagai akuntabilitas publik, proses musrenbangdes pun disiarkan secara live melalui Radio Komunitas yang dimiliki oleh Desa Dlingo ini. Tak hanya berhenti pada radio komunitas. Akuntanbilitas publik yang dikembangkan desa Dlingo juga dilakukan dengan memasang banner yang di pasang di depan kantor desa, juga melalui web desa. Di web desa inilah segala hal tentang desa dapat dilihat secara transparan. Mulai perencanaan program/kegiatan pembangunan, perencanaan anggaran, dan belanjanya. Tak hanya itu, web desa juga memuat pelayanan publik dan juga analisis kemiskinan.

 

Pembangunan Infrastruktur dan kesejahteraan.

Dana Desa telah merubah wajah Desa Dlingo, terutama dalam hal soal infrastruktur, baik dalam soal pelayana dasar, mulai pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Dampak lanjutanya adalah soal kesejahteraan. Inilah yang sesungguhnya yang dicapai dengan dana desa. Konsep utama  yang hendak dikembanghkan dengan Dana Desa ini adalah demokrasi di Desa Dlingo, baik soal transparansi dan akuntabilitas, juga harus berbanding lurus dengan kesejahteraan.

 

Di bidang pendidikan. Alokasi Dana Desa untuk pembangunan PAUD sebesar Rp 70-80 juta telah memberi ruang bagi anak-anak Desa Dlingo untuk mengeyam pendidikan sejak dini. Dan ini adalah investasi yang dilakukan desa. Dengan Dana Desa, pemerintah desa setempat dapat membangun gedung PAUD di tiga tempat di Desa Dlingo, dimana setiap PAUD rata-rata siswanya mencapai rata-rata 20 anak didik.

 

Tak hanya itu, untuk membangun karakter yang kuat bagi warganya, bidang-bidang kebudayaan jjuga disentuh oelh desa ini dengan dana desa. Dengan Dana Desa, desa akhirnya mengalokasikan pembangunan Balai Budaya sebagai tempat interaksi masyarakat dan tempat melestarikan tradisi yang dimiliki. Balai Budaya ini menjadi tempat bertemunya segala lapisan masyarakat untuk membicarakan tentang desa mereka.

 

Dari sisi kesejahteraan, Dana Desa secara nyata juga teklah mensejahterakan masyarakt. Paling tidak mampun menciptakan peluang-peluang kerja yang sebelum adanya Dana Desa tak pernah terpikirkan.  BUMDesa adalah contoh yang paling bisa diukur. Dengan suntikan modal dari dana desa sebesar 100 juta, Bumdes di desa Dlingo ini mampu menciptakan efek ekonomi yang spektakuler. BUMDesa yang diberi nama BUMDesa Dlingo Giritama ini membuka lini usaha mini market yang diberi nama Desa Mart. Tak hanya berorientasi pada penumpukan laba semata, melalui dana desa pula, BUMDesa ini memberikan pelatihan bagi warung-warung kecil yang ada di desa. Pelatihan ini membekali mereka yang ingin mendirikan warung tentang apa-apa saja yang harus dilakukan. Kehadiran BUMDesa dengan Desa Mart nya bukanlah ancaman. BUMDesa ini bahkan bisa dijadikan grosir dan kulakan. Di desa ini terdapat 200 warung, dengan omset masing-masing warung 200 ribu perhari.

 

Selain itu, pelatihan yang dilakukan BUMDesa juga memberi pembekalan teknis kepada masyarakat untuk menciptakan produk-produk unggulan desa, yang hasilmnya di pasarkan kan oleh Desa Mart. Hasilnya, telah tercipta sentra-sentra produk lokal, seperti emping garut, dodol sawo, ceriping singkong, dan jahe. Semuanya dikemas dengan baik. Inilah misi sosail yang hendak dikembangkan BUMDesa Dlingo.

 

Bagaiamana denggan pariwisata? Sebelum UU desa dan suntikan Dana Desa mengalir ke kantung APBDesa Dlingo, impian membangun sebuah tempat wisata tak pernah terbayangkan bagi para kepala dan warga dusun.  Sektor wisata alam ini saat ini begitu membuka peluang besar. Di desa Dlingo ini misalnya, Dusun Kebosungu mendapat suntikan Dana Desa sebesar Rp 24 juta untuk mengembangkan wisata River Tubing. Dampaknya, saat ini penghasilan rata-rata Rp 2 juta/minggu, sehingga sebulan paling tidak mengasilkan 8 jutan.

 

Semua hal di atas ingin menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan secara fundamental anatara sebelum dan setelah pemberlakuan UU desa, dan khususnya suntikan dana desa dalam derap pembangunan desa. Perubahan itu baik dlaam cara berfikir masyarakat dalam mereka memandang desa, maupun cara mereka melakukan pembangunan terhadapn desanya. Kehadiran dana desa telah menjadikan masyarakat sebagai pelaku pembangunan des aitu sendiri, dan menempatkan warga desa sebagai lakon utama. Lewat itu pula, kreatifitas masyarakat dalam menumbuhkan sector-sektor ekonomi sungguh luar biasa. Satu hal yang sama sekali tidak pernah terbayang pra Dana Desa.

 

Desa Dlingo yang kondisinya sebelum UU Desa dan suntikan Dana Desa seperti mati suri, kini menjadi desa yang sangat berprestasi, terutama dalam soal pengembangan Sistem Inforasi Desa, maupun pengembangan Ekonomi Desa melalui keberhasilan BUMDESnya. Dlingo saat ini menjadi tenmpat belajar banyak desa-des alain di Indonesia.  Hilang sudah cap Dlingo sebagai tempat pembuangan pejabat yang membandel. Dlingo telah berhasil merumuskan dirinya sendri dalam membangun desa.[Ahmad Maulani TAU Analisis dan Kebijakan Publik P3MD]

3 thoughts on “DESA Dlingo, Bantul, Mengukir Prestasi Setelah “Mati Suri”

  1. Luar biasa.. semoga desa2 yg lain mengikuti jejak desa dlingo… memanfaatkan anggaran DanaDesa sebaik dan semaksimal mungkin utk keberdayaan masyarakat guna meningkatkan perekonomiam dan kemandirian desa
    #manfaatdanadesa

  2. Desa Dlingo, dan warga ny luar biasa leren, setahap demi setahab.. membangun desa, saling bergandeng tangan, saling angkat bahu, saling belajar untuk desa ny… kerja hebat, kerja ikhlas, kerja dedikasi, kerja keras, untuk mencapai desa yg sejahtera…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *